Co-branding di dalam Industri Teknologi

AndroidPIT-android-O-Oreo-2065.jpg

Setiap tahun di sekitaran bulan Agustus / september pengguna Android akan dibuat penasaran dan main tebak-tebakan tentang apa nama versi Android berikutnya. untuk tahun 2017 ini terpilih nama Android 8.0 Oreo. Oreo? kayanya kok gak asing ya?

FYI untuk penamaan Android memang diambil berdasarkan nama-nama Dessert / Makanan ringan khas Amerika dan dengan urutan Berdasarkan abjad. listnya sebagai berikut (dimulai dari C):

C: Cupcake 1.5

D: Donut 1.6

E: Eclair 2.1

F: Froyo atau Frozen Yoghurt 2.2

G: Gingerbread 2.3

H: Honeycomb 3.0

 I: Ice Cream Sandwich 4.2

J: Jellybean 4.3

K: KitKat 4.4

L: Lollipop 5.0

M: Marshmallow 6.0

N: Nougat 7.0

O: Oreo 8.0

Sudah lihat list di atas. Ada yang menarik? sebagian nama ada yang asing buat kita seperti Eclair, Froyo, gingerbread dan Nougat. beberapa ada yang sudah pernah kita dengar (dan makan) seperti donut, Ice Cream Sandwich, Lollipop dan Marshmallow. tapi hanya ada 2 yang gue yakin kita sebagai orang Indonesia sama sekali tidak asing, Kitkat dan Oreo. inget dengan slogan “ada break, ada kitkat” dan “ diputer, dijilat, dicelupin”? masa kecil dan remaja kita sangat tidak asing dengan slogan tersebut. yap, Kitkat dan Oreo cukup dekat dengan kita sebagai orang Indonesia karena dua brand makanan ringan ini resmi beredar di Indonesia.

Terus, apa hubungannya dengan industri teknologi? dan kenapa Google tertarik menggunakan dua brand snack tersebut sebagai nama dari versi OS Android bikinan mereka? selain nama yang catchy, faktor dari brand juga sangat berpengaruh. inilah yang disebut dengan Co-Branding.

Apa sih Co-branding itu?

Apple-Watch-Nike-PLus.jpg

Konsep Co-branding menurut Rhenald Kasali doktor bidang consumer sciences-business administration, Co-Branding adalah “segala aktivitas yang harus dapat meningkatkan nilai tambah, entah berupa asosiasi baru yang positif, diferensiasi produk yang lebih luas, kepercayaan konsumen yang lebih bagus karena kepastian terhadap kualitas yang lebih besar, atau bahkan strategi-strategi pemasaran baru seperti jalur distribusi baru dan produk baru”.

Lalu apakah Co-branding ini efektif di industri teknologi?

Untuk para pemilik brand teknologi, Co-branding bisa menjadi suatu strategi yang menguntungkan apabila suatu brand teknologi melakukan Co-branding dengan Brand non-teknologi. keuntungannya antara lain adalah:

• Meningkatkan Penjualan

Dengan Co-branding sebuah brand teknologi dapat meningkatkan penjualannya. Dengan menggabungkan merek yang setara atau mungkin lebih baik, penjualan bisa ditingkatkan dengan lebih maksimal.

• Kesempatan Memasuki Pasar yang Baru

Keuntungan melakukan Co-branding adalah dapat memasuki pasar baru yang tadinya tidak dapat dimasuki sendirian dengan menggandeng partner yang lebih qualified dalam bidang tersebut. sebagai contoh Apple dan Nike yang bekerjasama di Apple Watch Nike+ Edition.

• Meminimalisasikan Investasi

Dengan Co-branding dapat meminimalisasikan Investasi. segala pengeluaran Co-branding mulai dari R&D, produksi dan Marketing dapat dibagi dengan partner Co-branding.

• Lebih meyakinkan untuk customer

Pelanggan mungkin ragu-ragu untuk mencoba produk atau sesuatu yang baru. Dengan melakukan kerja sama atau Co-branding dengan pihak lain yang ahli di bidangnya, maka pelanggan dapat diyakinkan dengan dengan cepat untuk dapat mencoba produk tersebut. sebagai contoh Brand Google dan Oreo masing-masing sudah sangat kuat di bidangnya membuat customer tidak ragu untuk mencoba produk kolaborasi mereka.

huawei-plus-leica-banner-new-1200x500.jpg

Sejauh ini sudah ada beberapa Brand teknologi yang gue tau melakukan Co-branding. Google dengan Kitkat & Oreo, Apple dengan Nike dan Huawei dengan Leica. dan so far sepertinya cukup berjalan dengan baik. masih ada yang lain selain yang gue tulis diatas? atau ada brand yang kalian ingin liat kerjasamanya dalam Co-branding? silakan tulis di kolom komen ya.

Adios!